10 Kriteria Muslim Ideal : Nafi’un Lighoirihi

Assalamu’alaykum Wr. Wb

Salam ranger!

Akhirnya sampai di kriteria ke 10,nih. Langsung simak aja ya..

Nafi’un lighoirihi atau dalam bahasa kerennya bermanfaat bagi orang lain(sesama) merupakan karakter ke sepuluh dari sepuluh karakter muslim idaman. Nah, karakter ini juga harus ada dan tertanam dalam diri kita rangers, supaya sempurna sudah diri kita menjadi MUSLIMAH IDAMAN!!

Trus, apa sih itu nafi’un lighoirihi? Mau tau aja atau mau tau banget?? Penasaraaan? More

10 Kriteria Muslim Ideal : Haritsun ‘Alal Waqtihi

Assalamu’alaykum Wr.Wb

Salam Ranger!

Nah lanjut untuk pembahasan berikutnya yaitu mengenai good time management. Bahasa arab nya haritsun ‘ala waqtihi. Apa itu?

Pandai menjaga waktu (haritsun ‘ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, akni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’
Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin. Nah sudah pada paham,kan? Yuk, sama-sama merefleksikan kepada diri masing-masing🙂

Aplikasi dari haritsun ‘ala waqtihi yang dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

  • Memperhatikan adab Islam dalam berkunjung dan mempersingkat pemenuhan hajatnya. Tau waktu lah intinya. Kalau si empunya rumah mau istirahat, kita sebagai tamu musti paham dan mengahrgainya.
  • Memelihara janji. Jangan obral janji manis ya, kawan. Cukup saya saja yang manis. Hehehehe.. 😀
  • Mengisi waktunya dengan hal-hal yang berfaedah dan bermanfaat.

– Ranger merah-

10 Kriteria Muslim Ideal : Mujahidun Linafsihi

Assalamu’alaykum Wr.Wb

Salam ranger!!🙂

Nah, kriteria muslim ideal selanjutnya yang tak kalah penting menurut Syaikh Hasan Al Banna adalah Mujahidun Linafsihi.

Mujahidun linafsihi adalah bersungguh-sungguh dalam jiwanya sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk, amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Misalnya dengan menjauhi segala yang haram, tempat-tempat hiburan dan maksiat.

Setiap individu dituntut untuk memerangi hawa nafsunya dan mengokohkan diri di atas hukum-hukum Allah melalui ibadah dan amal shalih. Artinya, setiap pribadi dituntut untuk berjihad melawan bujuk rayu setan yang menjerumuskan manusia ke dalam kebathilan dan kejahatan.

Rasulullah telah menjelaskan dalam hadits: Dari Fadhalah bin Ubaid berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

اَلْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللهِ

“Seorang Mujahid adalah orang yang berjuang untuk memerangi hawa nafsunya karena Allah” (HR. Tirmidzi, shahih)

Bahkan beliau mengatakan bahwa Mujahidun linafsihi adalah seutama-utama jihad. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ r: أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ ؟, قَالَ: أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَ هَوَاكَ فِي ذَاتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abu Dzar berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah : “Jihad manakah yang paling utama ?”, beliau bersabda: “Seutama-utama jihad adalah engkau memerangi dirimu dan hawa nafsumu karena dzat Allah ”(HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, shahih)

Ibnu Baththal –rahimahullah- berkata dalam Syarah Bukhari: “Jihad seorang hamba dalam memerangi hawa nafsu adalah jihad yang paling sempurna, Allah berfirman:

وَأَمَّامَنْخَافَمَقَامَرَبِّهِوَنَهَىالنَّفْسَعَنِالْهَوَى * فَإِنَّالْجَنَّةَهِيَالْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (An-Nazi’at: 40-41)

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- dalam kitab Fathul Bari berkata dengan menukil perkataan Ibnu Baththal: “Dan termasuk dari menahan hawa nafsu adalah mencegah dirinya dari bermaksiat (pelanggaran terhadap syariat Allah baik menyia-nyiakan hal yang wajib atau melakukan hal yang terlarang) dan mencegah diri dari syubhat   (kerancuan dalam beragama) dan juga menahan diri dari seringkali mengikuti syahwat yang mubah, dan ini semua dimaksudkan untuk lebih banyak terkonsentrasikan dengan akhiratnya”, dikatakan oleh Al-Hafizh: “Dan hal ini juga dimaksudkan agar tidak menjadi kebiasaan yang menyeret kepada syubhat lalu tidak merasa aman untuk jatuh dalam hal yang haram”

Sufyan Ats-Tsauri –rahimahullah- berkata: “Musuh kamu bukanlah orang yang jika engkau membunuhnya niscaya kamu akan mendapatkan ganjaran dengan sebab itu, hanyalah musuhmu adalah jiwamu (hawa nafsumu) yang ada dikedua sisimu, maka perangilah hawa nafsumu lebih keras dari pada kamu memerangi musuhmu”

Ali bin Abi Thalib berkata: “Pertama yang kalian akan kehilangan dari agama kalian adalah jihad dalam memerangi hawa nafsu kalian”

Al-Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- dalam kitab Zaadul Ma’ad berkata tentang jihad memerangi hawa nafsu, ada beberapa tingkatan:

1) Berusaha semaksimal mungkin untuk ditundukkan hawa nafsunya agar mau mempelajari petunjuk dan agama yang benar yang tidak ada kebahagiaan didunia dan diakhirat kecuali dengan kebenaran, dan barang siapa terluputkan dalam mengkaji ilmu yang benar niscaya akan celaka dunia dan akhirat

2) Berusaha semaksimal mungkin untuk ditundukkan hawa nafsunya agar mau beramal sesuai dengan ilmunya, jika tidak demikian maka semata-mata ilmu saja tanpa amal meskipun tidak memudharatkan tapi itu tidaklah bisa memberikan manfaat

3) Berusaha semaksimal mungkin untuk ditundukkan hawa nafsunya agar mau berdakwah dijalan yang benar dan mengajarkan kepada orang yang belum mengetahuinya, jika tidak demikian niscaya dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang Allah turunkan berupa petunjuk, ilmunya tidak bermanfaat dan tidak bisa menyelamatkannya dari azab Allah

4) Berusaha semaksimal mungkin untuk ditundukkan hawa nafsunya agar bersabar dalam menanggung resiko dakwah ke jalan Allah dan gangguan manusia

Maka bila dia telah menyempurnakan 4 tingkatan ini niscaya dia akan menjadi generasi Rabbani seorang hamba muslim yang terdidik dengan bimbingan dari Allah”.

Nah, yuk mari kita berjihad memerangi hawa nafsu🙂 Mari belajar mulai diri sendiri untuk menjadi muslim sejati yang lebih baik..

-Ranger Orange-

10 Kriteria Muslim Ideal : Munazhzhamun fi Syuunihi

 Assalamu’alaykum Wr.Wb

Salam ranger!

Hai semua ^^

Masih semangat untuk bahas kriteria ideal muslim selanjutnya,kan? Kriteria muslim yang selanjutnya adalah teratur dalam suatu urusan atau munazhzhamun fi syuunihi. Wah, bahasa arabnya agak belibet, ya.. hehe

Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Dimana segala suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas. Hm sudah pada bersungguh-sungguhkah,kawan?

Terinspirasi dari tulisan Fauzi Hasan yang berjudul Keteraturan Sebagai Cermin Kehormatan Islam, Ranger Pink mencoba menjelaskan munazhzham fi syu’unihi dengan baik🙂. Sebagai pembuka, yuk kita simak firman Allah berikut ini:

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. Ash-Shaff: 4)

Subhanallah, betapa Allah menyukai segala sesuatu yang teratur. Sebenarnya masalah keteraturan itu mudah banget kok sobat, tau gak sih? Sebagai umat muslim kita harus bangga sebangga-bangganya, karena agama kita mengajarkan kita untuk menjadi teratur J

Contohnya seperti kisah berikut:

seorang da’i yang bernama Dr. Yahya di negeri Paman Sam. Beliau berbincang denganseorang non-muslim Amerika tentang jamah haji dalam sebuah tayangan yang sedang mereka tonton di TV. Dr. Yahya bertanya kepadanya tentang waktu dibutuhkan agar orang-orang di Masjidil Haram dapat berbaris dengan rapi. Si non-muslim memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mengatur jutaan jamaah adalah sekitar 2-3 jam. Saat dikatakan jamaah ini menyebar hingga ke lantai keempat masjid, ia pun menyebutkan 12 jam waktu yang dibutuhkan untuk merapikan barisan. Namun ketika diberikan fakta bahwa jamaah ini berasal dari negara yang berbeda-beda, dengan bahasa ibu yang berbeda-beda, ia pun mengatakan mustahil bisa merapikan barisan yang sebanyak itu. Justru sebaliknya, tayangan di TV itu menunjukkan hanya dengan sebuah seruan iqomah dan ucapan dari Imam Sholat, “Istawuu..!”, maka berdirilah jutaan jamaah dalam shaf-shaf barisan yang tersusun menjadi rapi hanya dalam waktu kurang dari 2 menit. Subhanallaah!Kepatuhan melahirkan keteraturan.Si non-muslim terperanjat dan terkagum-kagum melihat kejadian yang menurutnya langka itu.

Wow banget kan? Nah, selain teraturnya Shaf sholat. Sholat itu sendiri pun merupakan salah satu cara untuk merapikan kehidupan seorang musllim agar lebih teratur. Bagaimanapun kaitannya, seorang muslim mengatur segala rutinitasnya dan senantiasa mendahulukan sholat lima waktu, tepat waktu, hal itu adalah hal yang tidak mudah dan menjadi cikal bakal keteraturan beribadah.

Selain sholat, juga ada puasa. Puasa mengajarkan keteraturan pada muslim. Keteraturan tersebut berupa arahan untuk menjalankan aktivitas kehidupan dengan baik, efisien, serta menyehatkan. Puasa mengajarkan setiap muslim untuk makan dan tidur dengan lebih teratur. Puasa Ramadhan memberi peluang bagi kita untuk memberi asupan makanan yang lebih terukur bagi tubuh. Waww. Selain itu, puasa juga mengatur pengendalian hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak dikendalikan ibarat kuda liar yang akan mengancam sang pemilik. Jika dibiarkan, ia akan merusak benda-benda di sekitarnya. Namun ketika kuda liar sudah ditundukkan, dijinakkan, dan diatur, maka kuda liar ini akan berubah wataknya menjadi penurut dan mematuhi segala perintah pemilik kuda.

Tidak hanya aktivitas ibadah ritual, keteraturan juga tercermin dari aktivitas non-ritual dalam konteks pergaulan di masyarakat (sosial). Tanpa keteraturan di jalan raya, maka yang terjadi adalah tingginya angka kecelakaan, selain itu Polantas juga dengan senang hati akan menilang perusak keteraturan lalu-lintas, nah loo. Tanpa keteraturan saat mengantri di minimarket, yang ada teman-teman akan ditatap sinis oleh pembeli lainnya, dan alhasil jadi keributan. Tanpa keteraturan dalam berbisnis, maka pengusaha-pengusaha tidak akan pernah sukses. Tanpa keteraturan dalam berlatih, maka prestasi tidak akan pernah digenggam olahragawan. Tanpa keteraturan, maka tentara manapun akan kalah dalam peperangan. Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam pun senantiasa mengingatkan untuk menjaga fitrah diri sebagai manusia. Jika sedang marah, maka aturlah diri untuk bisa mengendalikannya. Jika sedang senang, maka aturlah diri untuk tidak berlebihan. Jika sedang susah, maka aturlah diri untuk tidak menyusahkan orang lain dan menyiksa diri sendiri. Jika sedang sedih dan kalut, maka aturlah diri agar tidak lekas putus asa. Semua ini adalah bentuk-bentuk ibadah kepada-Nya. Ckckck, Teratur itu indah kan sobat? J yo ayo hidup teratur! Sebagai cerminan kepribadian muslim ideal.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/12/327/kepribadian-muslim/#ixzz1BQSGjHZd

http://www.muzakki.com/lainnya/ibrah/471-keteraturan-sebagai-cermin-kehormatan-islam.html

 -Ranger Pink-🙂

 

 

10 Kriteria Muslim Ideal :

Assalamu’alaykum Wr.Wb

Salam Ranger!

Um, perkenalkan, saya anggota baru ranger😀 hehe

Baru aja gabung, e..suruh bahas mengenai 10 kriteria muslim ideal.Nah, untuk selanjutnya akan dibahas mengenai Qowiyyul Jismi ( fisik yang kuat). Dan maaf juga kalau jatuh-jatuhnya copas. Hehe *harap maklum

 

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat.

 

 

 

 

 

 

Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh kerana itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Kerana kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

10 Kriteria Muslim Ideal : Mustaqqoful Fikri

 

Assalamu’alaykum Wr.Wb

Salam ranger!

Kita masih membahas mengenai 10  kriteria atau karakterisrik muslim ideal lho. Simak pembahasan selanjutnya,ya..🙂

Kali ini yang akan di bahas adalah Mutsaqqoful fikri atau berwawasan luas. Nah, sebagai muslim wajib banget memiliki kriteria yang ini. Dengan wawasan yang luas, kita bisa ngeh dan nyambung kalau di ajak ngobrol atau membahas sesuatu. Kalau tidak mempunyai wawasan yang luas, akan kesulitan untuk menanggapi suatu hal. Kalau pun bisa kasih celetukan ya bisa jadi nggak nyambung, hehehe

Manusia dikatakan sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna karena memiliki akal. Namun, apakah akal tersebut digunakan untuk berpikir? Dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan firman-Nya kepada manusia untuk senantiasa berpikir. Salah satu dari sekian banyak ayat tersebut yaitu firman Allah yang artinya: Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Az-Zumar 39:42).

Jika sampai sekarang psikologi masih mencari-cari mengenai dimensi alam kesadaran dan ketidaksadaran, maka sebenarnya Allah telah menerangkan dalam Al Qur’an, tetapi apakah kita mau memikirkan atau tidak?

Seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Jika Islam pernah mengalami masa kejayaan, itu karena para muslim mau berpikir, bukan sekedar manusia yang berstatus memiliki akal. Suatu ilmu yang berkembang hingga sekarang juga karena manusia mau berpikir. Orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu tentunya tidak sama. Allah menerangkan dalam Al-Qur”an:

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (QS Ar-Ruum 30:29)

Apakah kita mau menjadi orang yang dzalim yang hanya mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu? Jika tidak, tergantung apakah kita mau menjadi seorang manusia yang berpikir atau tidak…

-Ranger Hijau (Intan Penuh Makna)- ^^v

10 Kriteria Muslim Ideal :Qadirun ‘Alal Kasbi

Yuppssss …. setelah Salimul aqidah, Sholihul ibadah, and Matinul khuluq, kriteria muslim selanjutnya adalah : QADIRUN ‘ALAL KASBI. Kalau diterjemahkan dengan menggunakan lidah orang Indonesia, artinya itu : mampu berusaha, rajin dan pantang menyerah untuk hal kebenaran yang syar’i. Maksudnya seperti apa dan bagaimana caranya bisa seperti itu? Look and watch this…

Hasan Al-Banna merumuskan 10 kriteria muslim yang sangat mulia jika setiap insan memilikinya. Namun kesepuluh hal itu tidak segampang yang kita kira, guys. Salah satunya bisa kita lihat di kriteria ke-4 ini : qadirun ‘alal kasbi. Supaya lebih mudah dipahami, coba kita jabarkan satu per satu seperti apa isi di dalam qadirun ‘alal kasbi ini … cekidoot!

Mampu berusaha

Berusaha, atau kita kenal dengan ikhtiar, sudah sangat sering kita dengar nasihat-nasihat ketika akan mencapai suatu tujuan : ikhtiar terlebih dahulu dibarengi dengan berdoa, lalu serahkan seluruhnya kepada-Nya, karena Beliau Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk umat-Nya. Misalnya, ketika seorang pelajar akan menghadapi ujian akhir semester, kita memberi saran kepadanya untuk selalu berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin oleh dirinya sendiri. Ketika seseorang sedang sakit, kita memberikan semangat untuk terus berusaha pulih seperti semula. Nah, trus ikhtiar atau berusaha itu kalau didefinisikan secara formal seperti apa ya? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan “ikhtiar” sebagai alat, syarat untuk mencapai maksud; daya upaya; mencari daya upaya; pilihan (pertimbangan, kehendak, pendapat, dsb).

                Dalam penggunaan istilah umum, ikhtiar dimaksudkan sebagai “usaha” untuk menyelesaikan suatu persoalan yang telah, sedang, dan akan dihadapi. Namun pada dasarnya ikhtiar merupakan istilah keagamaan yang baku, sehingga jika didefinisikan dalam makna yang Islami dapat memberikan penjelasan yang jelas dan bernilai ibadah. Sebab terkadang orang-orang banyak yang mencari segala cara untuk lepas dari permasalahan yang dihadapinya, as soon as posible. Tapi, sudah sesuaikah dengan yang disebut halal, benar, dan baik? Seorang pelajar yang harus mendapatkan nilai sesuai atau di atas standar nilai minimal berusaha dengan cara apapun agar dapat menjawab soal-soal ujian dengan benar melalui proses menyontek, atau bahkan disertai ancaman kepada temannya untuk memberikan contekan. Seorang pegawai kantoran yang dibelit hutang dan tetap ingin menafkahi keluarganya melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan nafkah tersebut, dengan judi atau korupsi, misalnya. Masih banyak contoh lainnya yang “mereka” anggap itu termasuk salah satu usaha, namun sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari sebuah kata “ikhtiar” tersebut.

Nah, saya nemu web yang isinya cantik nih, kebetulan ngomongin ikhtiar juga : http://myquran.org/forum/index.php?topic=75052.0

Ikhtiar – dalam bahasa Arab – berakar dari kata khair, yang artinya baik. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum.

Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik- baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Ikhtiar bukan sekadar usaha yang bebas dipilih dan ditentukan sendiri, namun ia adalah bagian dari upaya sangat serius untuk memperoleh kepastian spiritual dalam segala pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.
Maka, sesungguhnya ikhtiar bukan hanya usaha, atau semata-mata upaya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah membelit. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan. Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan – pertama-tama – apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak populer atau terasa berat. Larangan berputus asa Allah telah mencontohkan kisah Nabi Ya’qub dalam Al-Qur’an sebagai contoh nyata pelajaran orang-orang yang ditimpa kesusahan dan larangan berputus asa. Nabi Ya’kub yang terus berdo’a dan berharap pada Tuhannya setiap saat agar tidak termasuk orang-orang yang berputus asa, karena berputus asa pada kebaikan Tuhan adalah sifat-sifat orang yang kafir.

Nah, sudah cukup jelas kan? Ikhtiar itu tidak hanya sekadar usaha, ma men. Tapi juga diperhatikan, apakah sudah sesuai dengan syari’at Islam, tidak semata-mata hanya berdasarkan akal, adat, dan kebiasaan serta pendapat umum saja. Mana yang akan kamu pilih antara berusaha dengan cara apapun, atau menyerah? Bagiku, tidak dua-duanya. Masih ingat kisah Nabi Ya’qub a.s yang sangat kecewa mendengar anak kesayangannya, Nabi Yusuf a.s dikabarkan telah tewas dimakan serigala? Allah berpesan kepada Nabi Ya’qub untuk terus berusaha mencari informasi teraktual mengenai anaknya tersebut, tidak hanya bersedih dan berputus asa hingga menyebabkan beliau menjadi buta. Dalam Q.S Yusuf (12) : 87 Allah swt berfirman, yang artinya : ”Wahai anak-anakku! Pergilah kamu,
carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”
. See? Allah Knows The Best🙂

Rajin

Seberapa rajinkah kita mencari informasi terkini tentang perkembangan ilmu pengetahuan? Seberapa rajinkah kita membuang sampah? Seberapa rajinkah kita menulis jadwal kegiatan kita setiap harinya? Seberapa rajinkah kita belajar? Banyak sisi yang dapat mengarahkan kita untuk mengetahui ukuran “rajin” seseorang, bahkan ada orang yang melihat seseorang lain sedang memegang buku, entah itu buku milik orang tersebut atau bukan, entah telah dibaca semua atau hanya dimintai tolong orang lain untuk menjaga buku itu saja, kita tidak mengetahuinya, namun orang lain yang melihat ada yang berpersepsi bahwa ia seorang yang rajin; karena membawa buku, semudah itukah menyatakan seseorang “rajin”?

Menurut sumber yang saya lihat, http://www.artikata.com/arti-346786-rajin.html , rajin adalah 1 suka bekerja (belajar dsb); getol; sungguh-sungguh bekerja; selalu berusaha giat: — lah belajar supaya naik kelas;2 kerapkali; terus-menerus: ia — ke masjid; me·ra·jin·kan v membuat (mengusahakan supaya) rajin: untuk ~ anak-anak dl bekerja, Ibu guru sering mengadakan perlombaan yg berhadiah; ~ diri mengusahakan benar-benar, mengusahakan diri sendiri agar rajin;
pe·ra·jin n 1 orang yg bersifat rajin:
para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2 sesuatu yg mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sbg ~ pegawai; 3 orang yg pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan;

                Masih erat kaitannya dengan ikhtiar yang kita bahas tadi, bahwa rajin itu, dari definisi di atas, kurang lebih usaha kita untuk bersungguh-sungguh dalam bekerja dengan kemampuan sendiri. Ibarat tali yang hanya akan putus jika disengaja, usaha kita yang sungguh-sungguh dapat dengan sendirinya menurut atau bahkan terhenti hanya karena perasaan putus asa dan kecewa. DINGDOONG!!! Ayo scrool-up lagi cursornya, don’t ever put “give-up” in your life dictionary 🙂

Pantang menyerah

Nah, ini dia yang tadi diomong-omongin! Kita kudu ikhtiar, ga boleh menyerah dan putus asa; kita kudu rajin (bekerja sungguh-sungguh), ga boleh nyerah gitu aja sebelum mengerahkan apa yang kita bisa untuk dikerjain. Nah, pantang menyerah itu kalau kita udah kayak gimana, dan gimana caranya avoid tuh kata menyerah?

Pernahkah kamu mencoba memasukkan benang ke dalam lubang jarum tetapi selalu gagal dan penglihatan menjadi bias karena salah melihat dimana letak lubang itu? Jika dianalogikan dengan kehidupan ini, kita adalah benang tersebut. Panjangnya tak terhingga, bisa dikatakan panjangnya itu adalah masa kita di dunia untuk melakukan banyak hal. Jika dijalani sesuai dengan apa yang telah ditetapkan, benang itu akan lurus dan mulus, sehingga akan dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang jarum tersebut. Namun ketika jalan yang kita pillih tidak tepat, benang tidak masuk ke lubang yang seharusnya, tetapi justru mengarah ke lubang yang “bias” atau tidak nyata itu, bukan? Ada juga benang yang sudah masuk ke dalam lubang jarum, namun di tengah-tengah perjalanan terhenti karena kusut. Bagaimana bisa? Padahal di awal perjalanan berjalan lancar-lancar saja, dan bagian akhirnya pun lurus seperti halnya di depan. Bagian tengah dari benang itu telah mengikuti arah jalan yang seharusnya, namun terkadang tidak benar. Sebagian di antara kita ada yang putus asa melihat kusutnya benang itu, sehingga dengan segera memutuskan bagian benang yang kusut itu. Namun sebagian lainnya akan berusaha mengulur benang itu menjadi lurus, dan melanjutkan perjalanan benang melalui lubang jarum dengan hati-hati dan tenang. So far, sudah bisa dimaknai kan dari pencitraan di atas, bahwa menyerah hanya akan memutuskan usaha yang telah kita awali dengan penuh kesungguhan dengan sia-sia.

Saya menemukan refensi bagus dari http://www.motivasi-islami.com/membangun-pribadi-pantang-menyerah/ , berikut beberapa di antaranya :

“Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat dimana ia ingin beribadah dan ada saat dimana enggan beribadah. Di antara dua keadaan itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib manusia ditentukan.

Dalam arti lain, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik.”

“Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, mendapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll, maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar, dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

(Arda Dinata, praktisi kesehatan;pengusaha inspirasi;pembicara;trainer;motivator di MIQRA Indonesia) ”

BE BETTER OF BEING A GOOD FIGHTER🙂

(riestyane_grey ranger)

Previous Older Entries