10 Kriteria Muslim Ideal :Qadirun ‘Alal Kasbi

Yuppssss …. setelah Salimul aqidah, Sholihul ibadah, and Matinul khuluq, kriteria muslim selanjutnya adalah : QADIRUN ‘ALAL KASBI. Kalau diterjemahkan dengan menggunakan lidah orang Indonesia, artinya itu : mampu berusaha, rajin dan pantang menyerah untuk hal kebenaran yang syar’i. Maksudnya seperti apa dan bagaimana caranya bisa seperti itu? Look and watch this…

Hasan Al-Banna merumuskan 10 kriteria muslim yang sangat mulia jika setiap insan memilikinya. Namun kesepuluh hal itu tidak segampang yang kita kira, guys. Salah satunya bisa kita lihat di kriteria ke-4 ini : qadirun ‘alal kasbi. Supaya lebih mudah dipahami, coba kita jabarkan satu per satu seperti apa isi di dalam qadirun ‘alal kasbi ini … cekidoot!

Mampu berusaha

Berusaha, atau kita kenal dengan ikhtiar, sudah sangat sering kita dengar nasihat-nasihat ketika akan mencapai suatu tujuan : ikhtiar terlebih dahulu dibarengi dengan berdoa, lalu serahkan seluruhnya kepada-Nya, karena Beliau Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk umat-Nya. Misalnya, ketika seorang pelajar akan menghadapi ujian akhir semester, kita memberi saran kepadanya untuk selalu berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin oleh dirinya sendiri. Ketika seseorang sedang sakit, kita memberikan semangat untuk terus berusaha pulih seperti semula. Nah, trus ikhtiar atau berusaha itu kalau didefinisikan secara formal seperti apa ya? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan “ikhtiar” sebagai alat, syarat untuk mencapai maksud; daya upaya; mencari daya upaya; pilihan (pertimbangan, kehendak, pendapat, dsb).

                Dalam penggunaan istilah umum, ikhtiar dimaksudkan sebagai “usaha” untuk menyelesaikan suatu persoalan yang telah, sedang, dan akan dihadapi. Namun pada dasarnya ikhtiar merupakan istilah keagamaan yang baku, sehingga jika didefinisikan dalam makna yang Islami dapat memberikan penjelasan yang jelas dan bernilai ibadah. Sebab terkadang orang-orang banyak yang mencari segala cara untuk lepas dari permasalahan yang dihadapinya, as soon as posible. Tapi, sudah sesuaikah dengan yang disebut halal, benar, dan baik? Seorang pelajar yang harus mendapatkan nilai sesuai atau di atas standar nilai minimal berusaha dengan cara apapun agar dapat menjawab soal-soal ujian dengan benar melalui proses menyontek, atau bahkan disertai ancaman kepada temannya untuk memberikan contekan. Seorang pegawai kantoran yang dibelit hutang dan tetap ingin menafkahi keluarganya melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan nafkah tersebut, dengan judi atau korupsi, misalnya. Masih banyak contoh lainnya yang “mereka” anggap itu termasuk salah satu usaha, namun sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari sebuah kata “ikhtiar” tersebut.

Nah, saya nemu web yang isinya cantik nih, kebetulan ngomongin ikhtiar juga : http://myquran.org/forum/index.php?topic=75052.0

Ikhtiar – dalam bahasa Arab – berakar dari kata khair, yang artinya baik. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum.

Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik- baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Ikhtiar bukan sekadar usaha yang bebas dipilih dan ditentukan sendiri, namun ia adalah bagian dari upaya sangat serius untuk memperoleh kepastian spiritual dalam segala pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.
Maka, sesungguhnya ikhtiar bukan hanya usaha, atau semata-mata upaya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah membelit. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan. Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan – pertama-tama – apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak populer atau terasa berat. Larangan berputus asa Allah telah mencontohkan kisah Nabi Ya’qub dalam Al-Qur’an sebagai contoh nyata pelajaran orang-orang yang ditimpa kesusahan dan larangan berputus asa. Nabi Ya’kub yang terus berdo’a dan berharap pada Tuhannya setiap saat agar tidak termasuk orang-orang yang berputus asa, karena berputus asa pada kebaikan Tuhan adalah sifat-sifat orang yang kafir.

Nah, sudah cukup jelas kan? Ikhtiar itu tidak hanya sekadar usaha, ma men. Tapi juga diperhatikan, apakah sudah sesuai dengan syari’at Islam, tidak semata-mata hanya berdasarkan akal, adat, dan kebiasaan serta pendapat umum saja. Mana yang akan kamu pilih antara berusaha dengan cara apapun, atau menyerah? Bagiku, tidak dua-duanya. Masih ingat kisah Nabi Ya’qub a.s yang sangat kecewa mendengar anak kesayangannya, Nabi Yusuf a.s dikabarkan telah tewas dimakan serigala? Allah berpesan kepada Nabi Ya’qub untuk terus berusaha mencari informasi teraktual mengenai anaknya tersebut, tidak hanya bersedih dan berputus asa hingga menyebabkan beliau menjadi buta. Dalam Q.S Yusuf (12) : 87 Allah swt berfirman, yang artinya : ”Wahai anak-anakku! Pergilah kamu,
carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”
. See? Allah Knows The Best🙂

Rajin

Seberapa rajinkah kita mencari informasi terkini tentang perkembangan ilmu pengetahuan? Seberapa rajinkah kita membuang sampah? Seberapa rajinkah kita menulis jadwal kegiatan kita setiap harinya? Seberapa rajinkah kita belajar? Banyak sisi yang dapat mengarahkan kita untuk mengetahui ukuran “rajin” seseorang, bahkan ada orang yang melihat seseorang lain sedang memegang buku, entah itu buku milik orang tersebut atau bukan, entah telah dibaca semua atau hanya dimintai tolong orang lain untuk menjaga buku itu saja, kita tidak mengetahuinya, namun orang lain yang melihat ada yang berpersepsi bahwa ia seorang yang rajin; karena membawa buku, semudah itukah menyatakan seseorang “rajin”?

Menurut sumber yang saya lihat, http://www.artikata.com/arti-346786-rajin.html , rajin adalah 1 suka bekerja (belajar dsb); getol; sungguh-sungguh bekerja; selalu berusaha giat: — lah belajar supaya naik kelas;2 kerapkali; terus-menerus: ia — ke masjid; me·ra·jin·kan v membuat (mengusahakan supaya) rajin: untuk ~ anak-anak dl bekerja, Ibu guru sering mengadakan perlombaan yg berhadiah; ~ diri mengusahakan benar-benar, mengusahakan diri sendiri agar rajin;
pe·ra·jin n 1 orang yg bersifat rajin:
para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2 sesuatu yg mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sbg ~ pegawai; 3 orang yg pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan;

                Masih erat kaitannya dengan ikhtiar yang kita bahas tadi, bahwa rajin itu, dari definisi di atas, kurang lebih usaha kita untuk bersungguh-sungguh dalam bekerja dengan kemampuan sendiri. Ibarat tali yang hanya akan putus jika disengaja, usaha kita yang sungguh-sungguh dapat dengan sendirinya menurut atau bahkan terhenti hanya karena perasaan putus asa dan kecewa. DINGDOONG!!! Ayo scrool-up lagi cursornya, don’t ever put “give-up” in your life dictionary 🙂

Pantang menyerah

Nah, ini dia yang tadi diomong-omongin! Kita kudu ikhtiar, ga boleh menyerah dan putus asa; kita kudu rajin (bekerja sungguh-sungguh), ga boleh nyerah gitu aja sebelum mengerahkan apa yang kita bisa untuk dikerjain. Nah, pantang menyerah itu kalau kita udah kayak gimana, dan gimana caranya avoid tuh kata menyerah?

Pernahkah kamu mencoba memasukkan benang ke dalam lubang jarum tetapi selalu gagal dan penglihatan menjadi bias karena salah melihat dimana letak lubang itu? Jika dianalogikan dengan kehidupan ini, kita adalah benang tersebut. Panjangnya tak terhingga, bisa dikatakan panjangnya itu adalah masa kita di dunia untuk melakukan banyak hal. Jika dijalani sesuai dengan apa yang telah ditetapkan, benang itu akan lurus dan mulus, sehingga akan dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang jarum tersebut. Namun ketika jalan yang kita pillih tidak tepat, benang tidak masuk ke lubang yang seharusnya, tetapi justru mengarah ke lubang yang “bias” atau tidak nyata itu, bukan? Ada juga benang yang sudah masuk ke dalam lubang jarum, namun di tengah-tengah perjalanan terhenti karena kusut. Bagaimana bisa? Padahal di awal perjalanan berjalan lancar-lancar saja, dan bagian akhirnya pun lurus seperti halnya di depan. Bagian tengah dari benang itu telah mengikuti arah jalan yang seharusnya, namun terkadang tidak benar. Sebagian di antara kita ada yang putus asa melihat kusutnya benang itu, sehingga dengan segera memutuskan bagian benang yang kusut itu. Namun sebagian lainnya akan berusaha mengulur benang itu menjadi lurus, dan melanjutkan perjalanan benang melalui lubang jarum dengan hati-hati dan tenang. So far, sudah bisa dimaknai kan dari pencitraan di atas, bahwa menyerah hanya akan memutuskan usaha yang telah kita awali dengan penuh kesungguhan dengan sia-sia.

Saya menemukan refensi bagus dari http://www.motivasi-islami.com/membangun-pribadi-pantang-menyerah/ , berikut beberapa di antaranya :

“Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat dimana ia ingin beribadah dan ada saat dimana enggan beribadah. Di antara dua keadaan itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib manusia ditentukan.

Dalam arti lain, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik.”

“Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, mendapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll, maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar, dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

(Arda Dinata, praktisi kesehatan;pengusaha inspirasi;pembicara;trainer;motivator di MIQRA Indonesia) ”

BE BETTER OF BEING A GOOD FIGHTER🙂

(riestyane_grey ranger)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: